Rabu, 11 Mei 2016

Kepada lelaki pengkhianat.



Kemarilah
Saya tidak akan memaki
Saya tidak akan semarah itu lagi
Kemarilah
Saya hanya ingin memeluk mu erat – erat
Saya ingin membisikanmu sekalimat saja
Saya merindukan tubuh mu
Kemarilah
Saya hanya membawa belati
Berpeluklah kemari, saya tidak tahan lagi
Saya ingin mengoreskan belati ini berkali – kali
Hingga kamu perih tersakiti
Bagimana ?
Kamu sudah mati ?

tulang ku





Anggap saja saya ini anjing
Anjing yang kelaparan dan merindukan tulang
Tulang yang tak dapat saya jilati meski saya terlalu kelaparan

Bila memang tulang ku tersembunyi
Bisakah kamu menemani mencari
Meski mungkin raga mu tak dapat terhadiri
Saya tetap ingin ditemani

Bisa jadi tulangku telah merapuh
Meski kamu memaksa ku tetap menjadi tangguh
Tenang saja, aku berusaha tetap menjadi tulang belulang mu
Menjadi pasangan pada rusuk – rusuk mu

...

Tetap saja anggap saya anjing
Yang berkeliaran mencari  tuanya
Meski tau tuannya tidak akan datang – datang
Tapi ia tahu tuannya akan memberi tulang

Saya tetap seperti anjing meski saya susah dijinakan
Tetapi bukan berarti saya dapat diikat untuk menjinak
Saya hanya menunggu tulang pulang
Tulang rusuk